Ini adalah surat dari produser album BONITA, Yuka Dian Narendra yang sedianya dibacakan saat launching album “…laju” BONITA pada tanggal 9 Januari 2010 lalu. Saat itu ia tidak bisa hadir karena sedang menjalankan tugas akademis di Kamboja.
Terimakasih banyak mas Yuka atas surat ini. Selamat membaca bagi Anda semua dan semoga memberi manfaat bagi semua.
============================================================================================
Bonita “Laju”
Yuka Dian Narendra
Seharusnya saya bicara di acara launching album keduanya, “Laju,” malam ini, 9 Januari 2010, di Barcode, Kemang, Jakarta. Tapi saya sungguh tidak dapat hadir karena saat ini, saya sedang berada jauh dari Jakarta. Jadi saya berjanji untuk menuliskannya agar kemudian dibacakan pada saat acara, yang saya yakin sedang berlangsung detik ini juga ketika saya menuliskan ini. Maaf Bon, tulisan ini datang sangat terlambat dari waktu yang seharusnya. Saya sungguh disibukkan dengan segala hal sehubungan dengan konferensi ini.
Bonita dan Adoy meminta saya untuk berbicara sebagai produsernya, terutama dalam konteks album kedua ini. Saya jujur, bingung hendak bicara apa. Sesuai permintaan, saya diharapkan memberi ulasan, atau setidaknya perspektif pribadi saya, tentang album kedua ini. Terlebih, dalam ulasan ini saya harus menempatkan diri sebagai seorang produser rekaman yang merupakan bagian integral dari industri musik. Ironis sekali, karena keberadaan saya di Phnom Penh saat ini adalah untuk memenuhi undangan sebagai salah satu pembicara seminar di Royal University of Phnom Penh, yang bertema “Open Culture, Free Knowledge.” Dalam konferensi ini, saya malah harus memosisikan diri sebagai seorang peneliti yang resisten terhadap paradigma klasik industri musik, yaitu copyright. Berada dalam oposisi biner memang menyusahkan. Terutama jika secara ideologis kita memilih salah satu posisi tersebut dengan kesadaran penuh. Saya pribadi, lebih merasa diri hanyalah seorang akademisi yang tentunya bagi kebanyakan orang, “bisanya cuma ngomong,” bukan seorang produser rekaman. Saya ingat betul, seorang teman saya pernah berkata demikian. Memang, saya hanya seorang hobbyist, kebetulan hobby saya merekam.
Sama seperti halnya ketika saya memutuskan untuk “kembali” menjadi produser Boni, demikian saya memanggilnya, untuk album keduanya, sekitar akhir tahun 2005. Dalam kondisi yang “abandoned,” baik oleh tim manajemen dan perusahaan rekamannya, serta oleh para musisi pendukungnya. Tidak dalam artian yang buruk selain “timing,” karena saat itu semua memilih jalannya sendiri-sendiri pada saat yang bersamaan. Untuk memulai semuanya berdua dengan Boni, saya hanya berbekal Powerbook 12” dan ruangan kecil berakustik baik di rumahnya. Dalam keadaan nihil itulah, konsep album pun dibuat dalam keadaan sungguh terpaksa, artinya, memanfaatkan hanya yang ada. Itulah awal dari konsep album “Laju.” Gitar akustik, perkusi dan vokal. Walau demikian, sepanjang proses produksinya, saya tidak dapat menahan rasa iseng saya untuk beride menambahkan ini dan itu di setiap lagu. Modal album ini, hanyalah rasa percaya saya yang besar terhadap Boni, bahwa dia sudah mampu masuk ke fase berikutnya, yaitu sebagai seorang singer-songwriter. Selebihnya, yang saya berikan hanyalah bantuan, saran, dan hard disk space di dalam laptop saya. Mengapa? It was simply, Boni herself, who brought the music with her magical voice.
Saya mengenal Boni memang sejak ia masih duduk di kelas 5 SD. Saat itu, saya dan kakaknya, Hendra Perdana (Anda), adalah teman sebangku di kelas 1 SMA yang bukannya belajar bersama atau bertukar contekan, malah sering bertukar ide dan lirik lagu. Tahun 1991, waktu Boni duduk di kelas 1 SMP, almarhum Teguh Priambada adalah orang pertama yang mengajukan gagasan untuk memaksa Boni menyanyikan lagu yang baru kami tulis bertiga dengan Anda. Itulah kali pertama saya mendengar suara Boni. Jika mengingat ini, harus saya akui bahwa kadang sulit bagi saya untuk tidak melihat Boni sebagai “adik kecil” saya. Beberapa tahun kemudian, album pertamanya rilis dengan single “Merah.” Lagu inilah yang pertama kali Boni nyanyikan di tahun 1991. Okay, enough for nostalgia.
Kembali ke album keduanya, album ini merupakan sebuah pernyataan penting bahwa Boni telah berhasil memenuhi janjinya. Tidak terhadap siapapun, namun terhadap dirinya sendiri seperti yang pernah ia ucapkan kepada saya di tahun 90-an akhir. “Gue mau total di musik, Juk,” itulah jawabnya atas pertanyaan saya seputar apa yang terjadi pada kuliahnya di Atma Jaya. Setelah belasan tahun, ia berhasil membuktikan itu. Rasanya tidak ada yang lebih penting dalam hidup ini ketika kita berhasil membuktikan pada diri sendiri bahwa kita berhasil meraih apa yang kita inginkan. Meraih cita-cita hanyalah langkah awal, yang sulit. Namun jauh lebih sulit adalah langkah selanjutnya, setelah kita berhasil meraihnya, apapun itu. Jika “Laju” dapat dianalogikan dengan ini, maka yang harus kita tunggu dari Boni sebagai musisi adalah kontinuitas dan konsistensinya di kemudian hari. Sebagai musisi, Boni harus menyadari sepenuhnya bahwa punya album bukanlah tujuan. Yang terpenting adalah perjalanan macam apa yang akan tempuh setelah album tersebut berhasil diwujudkan.
“Bon, sementara ini hanya dua halaman ini yang bisa saya berikan. Saya sangat letih dengan acara jalan-jalan seharian. Phnom Penh kota yang seru. Kau harus datang ke sini suatu hari dan manggung. Berhubung sudah pernah main di Singapore, sekalian saja jelajahi Asia Tenggara.”
January 9, 2010,
Room 205
Hotel Cara
Sangkat Srass Chork
Khanh Doun Penh,
Phnom Penh,
Cambodia.
============================================================================================