Di hari ketiga kami berada di Singapura, kerinduan saya terhadap anak kami Pramusetya Kanca yang kami tinggal di Jakarta semakin menggebu. Terimakasih untuk teknologi perekaman video yang begitu canggih, saat kangen tiba, saya bisa melihat rekaman video Pram di handphone saya. Tapi ‘celaka’nya begitu melihat video tersebut, bukan terobati, rasa kangen malah makin menjadi. Akhirnya saya memilih untuk membayangkannya saja. Membayangkan wajahnya dan celotehannya serta tawa dan senyumannya membuat saya terus bersemangat menjalani hari-hari kami bersama di Singapura ini. Bermusik dengan giat dan semangat ternyata cukup bisa mengobati kerinduan saya itu, karena saya yakin ’somehow’ ini akan bermanfaat untuknya kelak.

Setelah semua penampilan musik tuntas kami jalani, di hari keenam kami ‘bebas tugas’. Dan kami berniat untuk mengisi malam terakhir kami di Singapura menyaksikan pertunjukan di Mosaic Music Festival. Pertunjukan dari seorang artis belum pernah saya dengar karya-karyanya. Ketertarikan saya pada artis yang satu ini adalah (salah satunya -setelah membaca beberapa berita tentangnya di internet) bahwa ia dulu pernah populer karena karyanya yang didokumentasikan dalam album rekaman audio pada tahun 1970 berjudul “Just Another Diamond Day”, namun ia ‘hilang’ dari ’scene’ musik populer tersebut setelah rilis album tersebut hingga tahun 2000. Saat itu ia dijuluki sebagai ‘female Bob Dylan’ dan ‘the Godmother of Freak Folk’. Dia adalah Vashti Bunyan.
Di Mosaic Music Festival 2010 ini ia tampil pada tanggal 19 Maret pukul 11 malam. Kembali lagi, keberuntungan beserta kami. Panitia memberikan kemurahan hati dan kemudahan bagi kami untuk bisa menyaksikan pertunjukan tersebut. Kami berhasil mendapatkan tiket gratis menyaksikan show Vashti Bunyan di Concert Hall Esplanade. Wow! Keren! Terimakasih! :D
Jantung berdebar-debar saat menanti jam 11 malam, waktu berlangsungnya show Vashti Bunyan: seperti apa musik yang akan ia sajikan, apa perasaan yang akan timbul dalam diri saya mendengarkan musiknya, atmosfer apa yang akan ‘menyelimuti’ saya saat pertunjukan nanti, akankah saya puas – atau kecewa; itu adalah beberapa hal yang membuat saya berdebar ingin segera menyaksikannya. Jam 11 kurang sepuluh menit kami menuju ke Concert Hall.

Begitu masuk ke ruangan pertunjukan, saya kagum dan nyaman: ruangan pertunjukan begitu baik ditata. Indah, bagus, keren :) Dan hati saya pun luluh begitu melihat setting panggung Vasthi Bunyan: sederhana. Dari sudut pandang saya (dari kiri ke kanan): piano, kursi dengan violin di atasnya, gitar akustik kawat 1 dan gitar akustik kawat 2 sedang ‘duduk’ di standnya. Baru dari melihat setting panggungnya saja saja, di kepala saya sudah bergumul bayangan-bayangan musikal, yang indah dan menenangkan. Sampai tiba saatnya lampu ditemaramkan dan MC mengintroduksi acara, lalu satu demi satu artis masuk dari kiri. Keempat musisi itu akhirnya duduk di tempatnya masing-masing. Buat saya Vashti Bunyan cantik sekali, senyumnya mengembang, dan ia tampak agak malu-malu. Wajahnya sering tertutupi oleh rambutnya yang sudah banyak beruban. Ya, dia sudah tua, 65 tahun usianya.
Satu demi satu lagu ia mainkan. Pada tiga lagu awal, saya melihat tangan kirinya sedikit gemetar memegang neck dan senar-senar gitarnya. Mungkin grogi? Mungkin saja, saya tidak tahu persis :) Sedikit sekali lirik lagu yang bisa saya dengarkan dengan jelas. Bukan karena sound systemnya yang kurang baik, sound system sangat baik dan membuat musik jelas sekali terdengar, tapi mungkin karena caranya bernyanyi yang membuat artikulasi lirik tidak bisa didengar dengan jelas.
Di setiap awal lagu Vashti Bunyan selalu memberikan introduksi, bercerita tentang lagu yang akan ia mainkan: apa, atau siapa, atau menceritakan perasaan apa. Introduksi tersebut ia sampaikan dengan singkat, dengan suara yang lembut cenderung lirih, wajah tersenyum, dan beberapa kali ia imbuhi dengan humor. Uraian-uraian itu yang menjadi salah satu modal saya menikmati lagu yang mereka mainkan. Sekali lagi, sederhana, indah, dan dalam, itu kesan yang hanya bisa saya sampaikan dengan kata-kata tentang lagu-lagu yang ia mainkan.

- gareth dickson
Vashti Bunyan ditemani oleh tiga orang musisi muda usia (dibandingkan dengan usia Vashti tentunya). Gareth Dickson bermain acoustic guitar, Emma Smith bermain violin/ recorder/ piano, dan Jo Mango bermain piano/ flute/ glockenspiel/ recorder/ concertina/ kalimba/ toy piano. Lagu-lagu yang mereka mainkan begitu menyentuh hati saya karena kedekatan isi lagu dengan pengalaman kerinduan saya dengan anak saya. Hal lain yang juga membuat saya tersentuh adalah aransemen yang begitu indah dan sederhana mereka mainkan: ‘model’ aransemen yang sering diajarkan guru musik untuk anak-anak dalam kelas ensamble, tidak rumit, menghasilkan bunyi-bunyi yang secara sederhana indah, dengan cara yang tidak terlalu sulit dimainkan. Hanya saja ketika hal-hal tersebut dimainkan dengan sepenuh hati dan dengan teknik yang cukup dan memadai, musik indahlah yang akan tercipta. Saya jadi teringat setting saat saya mengajar anak-anak untuk bermain musik secara ensamble… :)

emma smith
Tema-tema lagu yang ia cipta dan mainkan adalah tema-tema kehidupan sehari-hari: cinta, rindu, patah hati, rumah, dan keluarga. Tema-tema itu ia sampaikan dengan kedalaman lirik yang membuat lagu-lagu itu mempunyai nilai tutur yang begitu unik-personal, sekaligus sangat berharga untuk dibagi. Satu frase yang cukup mewakili kesan saya atas karya musiknya adalah: “ASAM GARAM KEHIDUPAN” :) Saya percaya bahwa kedalaman pengalaman akan membuat tingkat kesadaran dan kepekaan menjadi lebih tinggi, ditambah lagi dengan usianya yang sudah 65 tahun. Hal-hal itu tertampil dari lagu-lagu Vashti Bunyan: lagu-lagu tersebut bisa mewakili perasaan yang saya alami, tingkat kesadaran yang ingin saya capai, serta pelegaan atas harapan atau kerinduan. Tidak sedikit air mata saya menetes karena haru mendengarkan lagu-lagu yang ia bawakan.

jo mango
Usai 60 menit ia bermain, mereka berdiri dan pamit silam dari panggung. Tanpa dikomandoi, tepuk tangan tetap berteberan di ruang pertunjukan itu. Terus berlangsung sambil satu per satu penonton berdiri memberikan apresiasi atas pertunjukan indah itu. Dan ternyata itu juga menjadi permintaan untuk Vashti Bunyan kembali masuk ke panggung dan menyanyikan beberapa lagu lagi. Sosok ibu yang sudah tua itu muncul lagi ke panggung dengan senyumnya dan kembali duduk di kursinya untuk kembali bernyanyi. Usai satu lagu bonus, ia memanggil kembali ketiga musisi muda tersebut untuk membawakan satu lagu lagi. Semakin lengkap dan puas saya menyaksikan pertunjukan tersebut. Dan setelah lagu terakhir mereka bawakan kembali penonton memberikan tepuk tangan yang semakin meriah serta penghormatan dengan standing ovation. Tampak wajah Vashti Bunyan senang dengan (lagi-lagi) senyumnya yang terlihat begitu rendah hati sambil akhirnya silam ke balik panggung.
Kami berjalan meninggalkan tempat duduk kami. Saya tersenyum sambil mengangkat alis. Kerinduan saya pada Pram semakin menguat namun justru semakin tenang dan teduh. Hati menjadi damai, bahagia secara sederhana, dan merasakan kerendahhatian dari pertunjukan tadi. Sejenak badan saya pun pulih dari kelelahan selama lima hari berkegiatan. “Apa lagi yang lebih penting untuk dicari dari kenikmatan bermusik selain mendapatkan perasaan-perasaan ini“, pikir saya dalam hati sambil berjalan ke luar ruang pertunjukan.
Beruntung sekali ada sesi penandatanganan CD dan merchandise di selasar concert hall tepat seusai pertunjukan. Langsung saja Bonita dan saya memutuskan untuk membeli ketiga CD album Vashti Bunyan di loket agar kami punya kesempatan bertemu, bercakap sebentar, mendapat tanda tangan, dan berfoto dengannya. Antrian untuk bisa bertemu dengan Vasthi Bunyan cukup panjang, makin tidak sabar lagi kami menunggu tiba giliran bertemu dengannya.

Dan seperti kata pepatah (atau bukan) “antri saja, nanti juga tiba giliranmu“, kami akhirnya bertemu dengan Vashti Bunyan. Wajahnya begitu ramah, matanya indah dan terlihat tulus. Kami mendapat tanda tangan di salah satu CDnya dan di ID card kami masing-masing. Secara khusus Bonita meminta Vashti menandatangani CD album “lookaftering” untuk Pram “To Pram with love from Vashti” begitu tulisnya di keping CD berlatar putih itu. Terimakasih kepada Deta yang ternyata masih menyimpan CD “…laju” BONITA di tasnya, Bonita dengan begitu antusias memberikan “…laju” kepada Vashti.
“Saya begitu senang mendengarkan musik Anda. Ini adalah CD album saya yang kedua, dan saya sangat bangga dengan album ini. Saya ingin memberikannya kepada Anda”, ujar Bonita. Vasthi mengucapkan terimakasih atas pemberian Bonita. “Terimakasih atas kesabaran, musik, dan senyum Anda”, ujar saya berpamitan.
Kami juga sempat berfoto bersama dengannya :)
Menyaksikan pertunjukan Vasthi Bunyan membuat kunjungan saya ke Singapura menjadi lengkap dan utuh. Malam terakhir di Singapura ditutup dengan pengalaman yang indah dan sederhana serta meneduhkan. Terimakasih kepada teman-teman semua (tanpa terkecuali), juga kepada Mosaic Music Festival 2010, yang membuat kami bisa mendapatkan pengalaman-pengalaman indah ini.
Bagi saya pribadi, sebagus-bagusnya penampilan kami di MMF2010 dan juga Blu Jaz Cafe, sesukses-suksesnya agenda kami, seberhasil-berhasilnya perjalanan kami, semuanya baru menjadi lengkap bagi saya ketika kami pulang ke Jakarta dan bertemu Pramusetya Kanca dalam keadaan sehat lahir dan batin. We do need others, especially our family. Secara halus dalam penampilan dan musiknya, Vashti Bunyan mengingatkan saya akan hal itu. Terimakasih… :’)
- Petrus Briyanto Adi -
