myspace    facebook    youtube    flickr    twitter    meme    delicious    plurk    koprol   

Archive for the ‘Reviews’ Category

Album Review Likethis Entertainment: Bonita – Laju

Album Review Likethis Entertainment: Bonita – Laju
Oleh : Viska pada Kamis, 01 Juli 2010 06:43

lajuBonita, siapa yang tidak kenal dengan wanita bersuara emas ini? Peraih juara harapan di International Pop Song Festival 1997 dan juara I  Festival Asia Bagus-weekly 1994. Setelah album pertama, BONITA muncul di tahun 2003, Bonita kini meluncurkan album kedua yang bertajuk LAJU.

Putri dari Koes Hendratmo ini memang mewarisi bakat musik ayahnya, tapi dia tidak mengandalkan nama besar orang tuanya untuk terjun ke dunia musik. Tawaran yang datang pun cukup mengesankan, dengan ketulenannya soal membuat lirik dan lagu, Bonita sudah sangat mendalami hal itu. Sehingga sesaat sebelum peluncuran album ini Bonita sudah terlibat dalam proyek album Ost. Sang Pemimpi lewat lagu ciptaannya “Komidi Putar”. Tak hanya itu,  tawaran acara musik  “Mosaic Music Festival” dan “Indi Asia” di Singapora pun datang kepada penyanyi solo ini.

Mengenai album ini Bonita menerangkan bahwa dia terinspirasi dari jurnal pribadi yang berawal di tahun 2000 sampai sekarang.  Album ini bercerita tentang fase-fase di mana Bonita mengalami rollercoaster kehidupan. Selain itu, album yang diiringi oleh The Hus Band ini juga memiliki lirik yang yummy yang bisa menjadi inspirasi para pendengar musik tanah air.

http://www.likethisentertainment.com/album-review/401-bonita-laju

Resensi Rekaman Jurnallica Webzine

Resensi Rekaman Jurnallica Webzine

Bonita – …laju CD
(RUMAHBONITA/DEMAJORS, 2010)

Tahun lalu, seorang biduanita bernama Tika berhasil membuat saya jatuh hati. Tahun 2010 ini, rasa itu telah tergantikan oleh Bonita –tentu itu semua karena keindahan suaranya. Namun, entah mengapa, setiap mendapati/ menyimak penyanyi wanita (khususnya di Indonesia), saya selalu terngiang dengan statement sarkas Tika dalam interviewnya di web ini, kalau: modal bokong ama bacot doang, jangan ngaku musisi lah…! Untungnya, puji tuhan, Bonita memiliki pita suara yang prima serta bokong yang sekal. Upss!!!

“…laju” adalah langkah baru Bonita setelah 7 tahun vakum dari dunia musik. Tapi, berhubung saya tidak tahu Bonita 7 tahun lalu seperti apa, maka saya hanya ‘melucuti’ apa yang ada di album keduanya. Dari komposisi materinya cukup mengindikasikan kalau pelaku musiknya adalah orang-orang yang berefrensi. Maksudnya, Bonita beserta ben pengiringanya sudah menjilati asam-garam. Maksudnya lagi, mereka bukan anak kemarin sore dalam bermusik. Begitu maksudnya, you dummy!

Boleh jadi saya bukanlah pribadi yang tepat untuk mengartikulasikan album Bonita yang lembut jadi terkesan kasar. Mungkin saya perlu belajar pada Denny Sakrie yang sensitif bagaimana estetika meresensi sebuah album pop-folk yang menarik. Namun, Anda juga jangan salah kira, dibalik merdunya alunan musik Bonita, pun tergurat bait-bait satir dalam sleeve kovernya yang berwarna dominan hijau toska dan merah muda.

Ketika Bonita bersenandung –di bait awal lagu pertama–, “di rumahku/ sangkar indah yang nyaman/ tempatku beristirahat”, semacam ikhtisar album ini sebelum Anda jauh memasuki jurnal 16 lagunya. Pop dalam lanskap folk memang terasa lebih sejuk dan tenang. Selain petikan akustik gitar yang bening, instrumen tradisional seperti djembe, akordian hingga guzheng (alat musik etnik Cina) menjadi alat mereka menenun irama.

Sebelumnya, single “Komidi Putar” pernah mengisi soundtrack film “Sang Pemimpi” yang bernuansa folk-Perancis lewat permainan akordian yang kental. Lagu-lagu Bonita lebih seperti alunan penghantar tidur (lullaby songs) atau cocok untuk dubing suatu acara bertema pemandangan alam.

Menuju deretan lagu-lagu akhir, kami terhangatkan oleh gaya vokal soul Bonita di “You Cheer Me Up”, sebelum akustik lullaby (kembali) menutup album ini dengan segala kenangannya, “ku telah jatuh cinta pada hidupku/ walau banyak penghalang/ ku ‘kan terus melaju”. Kalaupun Bonita tak merilis rekaman lagi di kemudian hari –karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi nanti–, “…laju” sudah cukup membuat reputasi Bonita sebagai salah satu biduanita pop-folk terbaik anak negri.

Lagi-lagi yang membuat miris, kenapa saya harus menemukan musisi-musisi seperti ini pada ‘mereka’ yang berkutat di jalur indie. Label-label major semakin tidak bisa diharapkan, terkecuali bila Bonita-nya yang ingin berdikari. Dunia pop bukan berarti dihuni mahluk menye-menye yang seperti menghantui di tv-tv hari ini. Atau, apa karena owners label-label major di negara ini matanya kurang melek? Padahal, secara musikal Bonita sudah easy-listening, lirik-liriknya yang terangkai puitis –meski tentang hidup & cinta–, plus bokong yang sekal pula. [Eits! Maaf, bila ada pengulangan-red].

Jelas, bahasa industri tak perduli bagus-buruknya suatu lagu/karya. Yang penting laris. Tak perlu memper-masalahkan bila tidak ingin dianggap masalah. Tapi, tidak-kah menyedihkan ketika selera sebagai fitrah manusia harus terbentuk oleh pasar? Ok, rasanya saya mulai menggerutu. Saya jadi teringat observasi seorang produser lokal terhadap selera dominan, kalau di Indonesia ini ternyata sound-sound butek itu yang laku. Nggak ada gunanya buat yang bagus-bagus kalau ngga laku. So, bukankah ini membuktikan kalau bangsa yang bobrok ini memang mayoritas selera musiknya JELEK. [Zim-Zum]

posted: June 10, 2010
Jurnallica Webzine
http://www.jurnallica.com

Bonita & the hus Band at Mosaic music festival 2010

Bonita & the hus Band at Mosaic music festival 2010

The trio of Bonita on vocal, her husband Adoy on guitar and Bharata on percussion, returned to Esplanade as a quartet with the addition of Jimmy on the saxophone. The eclectic group rock the house at 2010 Mosaic music festival with the “tribute to soul” greats such as Aretha Franklin, James Brown and Rod Stewart, along with original songs from two of their albums. I had a great time shooting this, with some blurred shots probably from moving to their wonderful sounds.

_BAA5241edited

_BAA5198edited

_BAA5201edited

_BAA5226edited

_BAA5369edited

_BAA5319edited

Budi Akbarsjah
Thursday, March 18, 2010
http://akbarsjah.blogspot.com/2010/03/bonita-and-hus-band-at-mosaic-music.html

RUMAH BONITA

RUMAH BONITA

Hari Sabtu bukan hari yang spesial buat gue. Sama kayak hari-hari biasanya, kecuali kenyataan bahwa banyak orang keluar hangout. Gue sih enggak ngefek. Buat gue semua hari pada dasarnya sama. Kecuali senin sama kamis, soalnya gue puasa. Lainnya sama aja.

Tapi, Sabtu tanggal 9 Januari adalah sabtu yang berbeda.

Adakah yang membedakan itu?

Tentu saja, gue diajakin Mbak Detta tersayang untuk ikutan liat launching album temennya.

Dikasih kabar ini, gue enggak keburu mengiyakan. Bukan jadi orang sok sibuk. Untuk mengantisipasi kalo ternyata ada acara di last minute, yang ternyata, tentu saja enggak ada. Karena gue orang yang gak begitu penting. Hahahaha, jadilah, ajakan ini gue iyakan. Mana mungkin gue nolak coba? Pilihannya tinggal jalan-jalan atau ngedekem di kost-an gue yang panas, gak ada udara, pengap dan menyebalkan itu.

Jadilah, gue bersiap-siap. Acaranya di Mal La Codefin, tepatnya di Barcode. Dan itu di daerah Kemang.

Mendekati gue berangkat, ternyata sodara-sodara, ujan deras. Gue pun mandi
(selama setengah jam lebih, bukan karena ada apa-apa, tapi emang gue amat sangat suka mandi kala di Jakarta. Menyenangkan) dan nunggu ujan reda yang ternyata enggak reda.

Jam tujuh gue berangkat, dan menerobos rintik-rintik ujan yang mencoba membuat tampilan gue terlihat menyedihkan. Padahal gue udah dandan abis-abisan (yah, dandan abis-abisan versi gue) untuk tampil dalam launching album yang berhubungan sama musik (yang langsung gue analogikan sebagai konser musik). Celana jeans sobek-sobek, kaos hitam, gelang, kalung, sama tas ransel hitam. Hahaha tas ini sebenernya bukan aksesori buat jingkrak-jingkrak, cuman gue laper banget, belom makan, dan gue gak sempet makan malam jadi ke Circle K bentar dan beli Cheetos sama wafer buat cemilan.

Toh gue masih sempet ke warnet barang setengah jam untuk update status. Dan akhirnya gue berangkat.

Dan disini kegilaan dimulai. Bajaj yang gue cari, yang biasanya sih banyak banget, ternyata pada jaim di malam minggu. Apa karena gerimis? Gak tau juga.

Dan gue memutuskan untuk terus berjalan sambil terus mencari yang berjudul bajaj sampe akhirnya sampai di tempatnya. Kemang ternyata gak jauh-jauh amat.

Maksud gue, buat seorang gue yang tiap hari (di Malang) jalan kaki dari rumah ke Perpus (suatu hari gue pernah jalan ke perpus, terus lanjut dari perpus ke matos dan dari matos ke rumah, semuanya jalan kaki. Ya, gue emang kurang kerjaan), dari kos-an ke Kemang tidak sejauh itu. Yang menyebalkan cuman gerimisnya doang.

Gue akhirnya sampai di Barcode, dimana gue menemukan diri gue kayaknya salah kostum. Lagian, gak ada satupun kostum gue yang cocok di Jakarta. Gue gak bawa baju banyak, hanya lima biji yang dipakai bergantian sampe gue bosen. Blom sempet balik ke rumah untuk bawa baju lagi, dan gue terlalu kemaruk sama DVD sampe gak bisa beli baju di Jakarta.

Acaranya launching-nya bukan launching album dari sebuah band seperti yang gue bayangkan (dalam bayangan gue, launching ini kayak semacam launching albumnya band-band menye semacam d’massiv), tapi seorang biduanita. Namanya aja Bonita. Gue jadi agak minder. Bukan agak sih sebenernya. Dan lagi, tempatnya terlalu keren buat gue. Hahahaha, semakin minder saja.

Tapi, perduli setan.

So, finally, gue duduk deket temen-temennya Mbak Detta (dan akhirnya terkumpul satu per satu, mulai dari Mbak Vina, Mbak Fitri, Mbak Dewi, Mas Apit dan temennya Mas Apit yang namanya gue lupa karena dia menyebutkan namanya dengan volume yang hanya bisa didengar sama semut) dan mulai menikmati apa yang disediakan malam ini.

Bonita namanya. Cantik banget, berkharisma dan dengan baju yang sederhana tapi mencuri perhatian, dia masuk ke panggung yang dibentuk laksana sebuah ruang tamu di sebuah rumah. Lalu, masuklah satu per satu personilnya. Ada yang megang ketipung (itu ya namanya? Pokoknya itu deh, gendang yang dipukul-pukul), gitaris yang juga suami Bonita dan pemain saxophone.

Tunggu sampe lo denger mereka mulai memporak-porandakan semua ekspektasi lo.

Praktis, tangan gue linu setelah acara selesai. Setiap lagu gue tepuk tangan. Dan Bonita? Oh my Fucking God. She is so unbelievable. Dengan tarikan suaranya yang powerful dan cara bernyanyi yang sudah tidak usah dipertanyakan lagi, gue membuang semua keraguan gue. Gue gak salah kostum. Ini emang konser rock. Bonita yang ngerock.

Anjing.

Suaranya. Merinding banget gue. Dan dia, by the way, buat yang belom tau, seperti gue, adalah salah satu pengisi soundtrack film sang Pemimpi dengan judul Komidi Putar yang mana lagunya ternyata sangat menyenangkan (kok gak ada di filmnya ya?). Dan semuanya bermain dengan gemilang. Gitarisnya oke, pemain gendang itu juga oke dan pemain saxophone-nya membuat gue pengen ikutan niup itu benda walopun gue yakin hanya mengeluarkan suara sumbang.

Satu-satunya keberuntungan yang dimiliki Bonita dalam peluncuran album keduanya Laju waktu itu adalah gue gak hapal lagunya. Beruntunglah dia. Kalo dia tau gue hapal lagunya, dia pasti akan nangis darah begitu tau semua karyanya yang jenius gue hancurkan dengan semena-mena.

Dan hujan yang deras ternyata membuat suasana semakin menggila. Bahkan ada Anda (itu loh yang ngisi ost-nya ada apa dengan cinta?, dan dia KEREN BANGET!) yang ikutan jadi penyanyi latar di salah satu lagu. Wow. Banyak sekali orang keren di Jakarta.

Setelah acara selesai, ternyata ada lagi band yang nyanyi-nyanyi, kali ini lagunya random. Mulai dari Queen sampe bertemu ke Viva La Vida-nya Coldplay. Namun saat itu, sayang sekali, walopun gue hafal lagunya, kita semua harus cabut. You’re so lucky.

Di kost-an gue cuman cengengesan (dan agak kelaperan karena blom makan, tapi SYUKURLAH, ada warung tenda yang jam SETENGAH DUA masih buka dan gue makan soto ayam dengan penuh nafsu) dan mengingat-ngingat kejadian tadi. Betapa kerennya.

Kalo elo, belum pernah mendengarkan live music, dimana penyanyinya punya suara poweful, diiringi petikan gitar yang keren, tabuhan gendang yang mantap dan alunan saxophone yang bikin merinding di sebuah tempat di rooftop dengan lampion warna-warni bergelantungan dan daun-daun di atas kepala lo, hidup lo belum lengkap mampir di dunia yang singkat ini.

Trust me on this.

Candra Aditya
http://nggacor.multiply.com/journal/item/329/Rumah_Bonita
JAN 11, 2010 8:51 AM

“…Laju” oleh Bonita – Album Pembelah Jantung dan Hati

laju-frontcover“…Laju”

BONITA

Selama 6 tahun setelah album perdananya, solois bersuara emas ini tampak lebih sibuk bertualang dari panggung ke panggung. Alhasil, kualitas suaranya pun justru semakin berkilau. Kalau Anda ingin tahu bagaimana rasanya mendengar suara yang bisa membelah jantung dan hati Anda (dalam makna yang positif), maka dengarkanlah Bonita. Well, saya memang pemuja Bonita.

Awal tahun 2010 ini, akhirnya Bonita kembali dengan album kedua yang dijamin akan kembali membuat Anda memuja suara indahnya. Berbeda dari album perdananya, album ini digarap secara independen, sehingga Bonita lebih leluasa mengeksplorasi musikalitasnya. Bayangin!

Bonita mengidentifikasikan karya dan penampilan musiknya sebagai pop-folk. Pengalamannya bermain musik dengan banyak dan beragam musisi membuat Bonita menjadi seorang penyanyi yang mempunyai karakter dan kemampuan menyanyi yang cukup kuat sekaligus fleksibel dalam menampilkan musik. Dengarlah nada-nada tinggi yang dilengkingkannya dengan power yang mengagumkan. Anda seolah dilontarkan ke tatasurya baru yang penuh dengan keindahan.

Dalam menulis lagu, Bonita cenderung mendeskripsikan keadaan atau pengalaman sehari-hari yang sederhana, saat ia berada dalam suatu situasi atau makna yang didapat dari suatu pengalaman personal. Ini membuat lagu-lagu yang ditulisnya terasa dekat dengan pengalaman keseharian kita. Kegemaran akan musik pop, rock, dan folk berpengaruh cukup kental dalam lagu-lagu yang dicipta atau ditampilkannya.

Ingin lebih dekat dengan Bonita? Mampir saja ke http://www.rumahbonita.com/

nKEwi
Senin, 22 Feb ‘10 20:22

http://curipandang.com/baca/2010/02/22/album-pembelah-jantung-dan-hati.html

Bonita | Big Band Shot

laju-cover-36904 Februari 2010

Bonita adalah putri dari penyanyi senior Koes Hendratmo. ketika mendengar nama yang satu ini, mungkin tidak asing bagi Anda yang begitu menyukai single seperti Merah ataupun Aku yang begitu hits di radio-radio lokal pada 2003 silam. Ya, album pertamanya bertejuk self-titled cukup membuat nama Bonita bernaung di telinga-telinga penyuka musik sejenisnya.

Laju adalah album ketiganya setelah self-titled (2003) dan BONITA & the hus BAND vol-1  (2009) yang hanya tersedia sebanyak 50 buah keping pada saat itu. Di album yang baru saja liris tepat tanggal 12 Desember 2009 ini, meyuguhkan 16 lagu-lagunya yang dikembangkan sejak album perdananya dirilis. Musik sejenis Folk menjadi alunan utama dalam album ini, dan Vina Panduwinata dikatakan terpngaruh pada bentukkan track demi track.

http://www.bigbandshot.com/bonita/

Siap Melaju Kembali

Selasa, 26 Januari 2010 09:41 WIB

Siap Melaju Kembali

Bonita kembali merilis album setelah vakum tujuh tahun lamanya.
Oleh : Ricky Siahaan

Bonita-Rock-RollBonita kini sedang bahagia. Putri dari penyanyi senior Koes Hendratmo yang lahir di Jakarta 7 Mei 1977 ini punya alasan yang tepat untuk merasa bahagia. Penantian selama tujuh tahun sejak album perdananya dirilis tahun 2003 usai sudah. Laju, effort terbaru milik Bonita resmi dirilis.

Berisikan 16 tembang yang secara lirik telah disusun rapi untuk mencerminkan perjalanan hidup Bonita selama tujuh tahun ke belakang. Dari mulai “Rumahku” hingga “Jatuh Cinta” semua terkonsep dengan matang mengenai apa yang dilaluinya. Sebuah runutan kejadian hidup yang disusun secara kronologis telah berhasil membuat Bonita membidani sebuah album bernafaskan folk ala Joni Mitchell, James Taylor, Peter Paul and Mary hingga aroma soul era Motown ala Stevie Wonder dan The Temptations.

Mungkin ada banyak orang yang familiar dengan tembang “Komidi Putar”, salah satu lagu di album Laju ini yang juga menghiasi soundtrack film Sang Pemimpi. “Ini semua sebenarnya bisa ditarik kembali dari tahun 2004 ketika ulang tahun mbak Mira Lesmana di gedung 28, di bilangan Kemang. Di sana Bonita ngobrol panjang lebar dengan Mbak Mira Lesmana. “Dia bilang ternyata mas Riri Riza sangat suka dengan lagu `Komidi Putar` dan mereka sempat bilang bahwa film Sang Pemimpi itu sempat nyaris berjudul Komidi Putar. Jadi jodoh banget sebenarnya. Akhirnya tembang ini pun dirilis terlebih dahulu dan berfungsi sebagai `pemanasan` terhadap album kedua yang dirilis sesudah filmnya,” ujar Bonita menjelaskan.

Setelah mengalami proses mixing yang memakan cukup lama, album kedua Bonita pun dirilis setelah sebelumnya menarik perhatian distributor dan juga label independen Demajors yang telah terlebih dahulu dikenal sering merilis album-album independen berkualitas, salah satunya adalah In Medio milik Anda with The Joints, yang notabene adalah abang kandung dari Bonita. “Anda telah banyak yang memberikan sumbangan berarti buat musik gue. Musik = Hidup. Berarti Anda telah banyak memberikan pengaruh pada hidup gue,” kata Bonita mengenai sang abang.

Tujuh tahun bukan sebuah waktu yang sebentar. Apa saja yang sudah dilalui seorang Bonita? Penyanyi yang memulai karier di kompetisi internasional macam Asia Bagus tahun 1994 dan juga Festival pop di Romania tahun 1997 ini memberikan pengakuan yang cukup mendetail. Biduanita ini mengaku sempat melewati, dan dari nada suaranya tampak sedikit menyesali, pola pergaulan hedonistik yang menurutnya membuatnya kurang produktif secara karya. “Bahkan beberapa lirik lagu di sini gue tulis sambil setengah sadar,” tutur Bonita. Putus hubungan kekasih sampai dengan masalah keluarga juga tak ketinggalan sempat menghiasi perjalanan hidup. Namun kemudian beberapa hal positif pun akhirnya pelan-pelan berhasil membe-rinya cambuk untuk berkarya kembali.

Yuka Dian Narendra menurut Bonita sangat berjasa dalam mendorongnya untuk membuat lagu dan masuk dapur rekaman. Kemudian pernikahan Bonita dengan Adoy, vokalis band independen Cozy Street Corner, ternyata juga ikut berpengaruh besar pada kehidupannya. Selain memberikan buah hati bernama Pramu Setiakanca yang kini berumur dua tahun, kehidupan berkeluarga mengubah perspektifnya akan musik.

“Gue penggemar berat Cozy Street Corner, gue adalah groupie yang berhasil menikahi musisi yang gue gandrungi. Gue jatuh hati dengan semangat mereka bermusik,” ujar Bonita bersemangat. Bonita juga menjelaskan bahwa inspirasi datang juga akibat melihat kepercayaan diri Cozy Street Corner akan kualitas musik mereka, jalan dengan cara independen, dan eksis sampai berbelas tahun. “Seperti itu cita-cita gue dari dulu. Jujur saja, satu-satunya kemahiran gue adalah musik. Gue nggak mau karier musik ini cuma berjalan sebentar, dan berakhir hanya jadi ibu rumah tangga,” tutur Bonita.

Kini dengan tim manajemen yang baru, Bonita tengah sibuk kembali, bersemangat kembali dan bersuara kembali. Dalam waktu dekat negeri Singapura pun akan disambangi untuk memamerkan talentanya. “Kami diundang main di acara Mosaic Music Festival di Singapura,” kata Bonita yang membuktikan bahwa kariernya kini mulai melaju kembali menyeberangi perbatasan.

http://www.rollingstone.co.id/read/2010/01/26/596/1/1/Siap-Melaju-Kembali