![]()
BONITA & the hus BAND – Hard To Handle (Cover)
Featuring Mas Disto on djembe
live at Kedai Disto – June 06, 2010
Festival Budaya Betawi Cipete Vaganza 2010
![]()
BONITA & the hus BAND – Hard To Handle (Cover)
Featuring Mas Disto on djembe
live at Kedai Disto – June 06, 2010
Festival Budaya Betawi Cipete Vaganza 2010
Lagu ini adalah salah satu lagu favorit saya. Dan sungguh senang sekali kami (BONITA & the hus BAND) cukup tekun mengaransemennya.
Sebelum keberangkatan ke Singapura bulan Maret lalu, kami merekam lagu “GOD Came to Me” ini bersama dengan tujuh lagu yang lain dalam sebuah album “BONITA & the hus BAND – volume 2 – limited edition” yang hanya kami jual pada saat itu di Singapura. Dan sekarang lagu ini ingin kami ‘share’ kepada teman-teman via media internet ini.
Lagu ini saya tulis sebagai ajakan kepada saya sendiri untuk percaya kepada CINTA sebagai hal yang baik dan memberi kehidupan. Fiktif? Ini hanya imajinasi saya :)
Ide lagu ini adalah sebuah percakapan saya dengan Bonita pada suatu malam. Perbincangan tentang peran/ role kita masing-masing di kehidupan ini. Percakapan itu begitu seru dan menarik memberi ide bagi saya untuk membuat lagu. Setelah malam itu, di setiap perjalanan selama +/- dua jam menuju kantor dengan taxi selalu saya gunakan untuk menulis lagu ini.
Sosok Joni Mitchell dan gayanya yang tenang saat bernyanyi entah kenapa selalu tampil saat saya membayangkan lagu ini. Gaya itu mungkin terdokumentasikan dalam lagu ini (harap maklum) :)
Menyelesaikan lirik yang sudah dimulai merupakan tugas musikal sekaligus sastra yang tidak mudah bagi saya. Seringkali kata-kata yang saya inginkan harus ‘mengalah’ dengan badan musik yang sudah ada, begitu juga sebaliknya:
di beberapa tempat musik yang ‘mengalah’ pada tuturan kata yang saya inginkan. Singkat kata proses menulis lagu ini selesai dan sempat saya rekam bentuk awalnya, teman-teman bisa mendengarnya di link berikut ini >>
GOD Came to Me (versi awal)
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Merekam lagu ini juga sebuah proses yang menarik (selain membawakannya saat live). Saya merasa perlu membuat komposisi sederhana untuk intro, belum lagi kesulitan kami masing-masing sebagai player dan vokalis untuk memberikan yang terbaik pada saat itu untuk merekam. Tidak lupa juga ketekunan Agus Leonardi untuk benar-benar mengoptimalkan input rekaman menjadi satu lagu yang tertata dengan baik dan bisa menyampaikan atmosfer yang diinginkan.
Jadilah rekaman lagu “GOD Came to Me” ini yang bisa teman-teman dengarkan di akhir note ini. Selamat menyimak dan semoga menikmatinya. Terimakasih banyak atas dukungan dan bantuannya :)
With LOVE…
- P. B. Adi -
judul lagu: GOD Came to Me
penggubah: P. B. Adi
yang membawakan: BONITA & the hus BAND
Audio clip: Adobe Flash Player (version 9 or above) is required to play this audio clip. Download the latest version here. You also need to have JavaScript enabled in your browser.
Bonita: vocals
Petrus Briyanto Adi: acoustic guitars, upright acoustic bass, didgeridoo, vocals
Bharata Eli Gulo: doumbek, cymbal, chimes, shakers, vocals
Jimmy Tobing: soprano saxophones
direkam oleh Agus Leonardi
dimix oleh Agus Leonardi
direkam di rumah AdoyBonitaPram, Cinere
lirik:
GOD Came to Me
God came to me
“it’s good to meet you”, He said with His simple smile
such a familiar face that you won’t forget nor you’ll remember
I told Him
“It feels so real but to surreal..
is it the alpha state that I just entered..?
but it didn’t happen in the other sessions”
“oh why… why tonight? I don’t know what I should do…
You came to me… it’s You..”
“Oh you.. mercy mercy me…
I still don’t know what to do…”
God came to me… with love
God told me
“I bet you feel special that I came to meet you…
greet you and having all this conversation…
but it’s not that special actually, my child…”
I told Him
“it feels surreal than it must be special…
how can it isn’t special that You came to meet the ordinary people..”
“Oh my… my child..” She said
“nothing’s special with Me coming to you…
I’m always here… with you…”
“But still… it’s kinda special…
because you’re aware that I am here…”
God looked at me with love
“I should tell this story to all my friends”
“Don’t bother doing it, my child..
‘Cause they won’t believe you…
but if you choose to do it anyway…
just tell them that it’s only your imagination”
“Oh my… my child..” She said
“nothing’s special with Me coming to you…
I’m always here… with you…”
“But you… you’re special…
cause you’re aware that I am here…”
God looked at me with love
God came to me with love…
Tanggal 15 & 16 Maret 2010 lalu, BONITA & the hus BAND (BNTHB) yang terdiri atas: Bonita, Petrus Briyanto Adi, Bharata Eli Gulo, dan Jimmy Tobing tampil di Mosaic Music Festival 2010, Esplanade, Singapore.
Penampilan BNTHB mendapat sambutan baik dari para penonton festival tersebut. Tidak hanya warga Indonesia yang tinggal di Singapore, para penonton manca negara juga tampak sangat menikmati dan memberikan respon hangat atas penampilan mereka selama dua hari itu.

bnthb @ i got soul, march 15, 2010
Pada tanggal 15 Maret, BNTHB tampil sebanyak dua sesi dalam tema “I Got Soul”. Pada kedua sesi ini BNTHB membawakan set list yang berbeda, keduanya memuat lagu-lagu BONITA dan juga lagu karya BNTHB serta beberapa lagu cover. Penonton memenuhi hampir seluruh tempat duduk yang tersedia.
Pada hari kedua, BNTHB tampil di panggung Haagen Dazs Living Room yang terletak di Concourse. Pada sesi yang bertema “Tribute to Soul Legends” ini, BNTHB memainkan lagu-lagu dari para legenda musik soul dunia seperti Otis Redding, Curtis Mayfield, James Brown, Aretha Franklin, juga Bob Marley. Tidak ketinggalan lagu karya legenda hidup musik Indonesia Titiek Puspa berjudul “Bimbi” berhasil dibawakan BNTHB dengan baik dan mendapat sambutan hangat dari para hadirin.

bnthb @ tribute to soul legends, march 16, 2010
Pada event ini, BNTHB juga membawa CD album kedua BONITA berjudul “…laju” dan CD album “BONITA & the hus BAND – volume2” yang memang khusus dibuat untuk keikutsertaan mereka dalam event internasional ini.
Selain di Mosaic Music Festival 2010, BNTHB juga menyempatkan diri untuk tampil di Blu Jaz Cafe selama dua hari: 17 & 18 Maret. Pada penampilan di Blu Jaz ini BNTHB juga mendapat sambutan yang begitu meriah dari para penonton. Penonton hampir memenuhi ruangan Blu Jaz Kafe di dua hari penampilan mereka.
Terimakasih banyak kami sampaikan kepada semua teman-teman serta media yang memberi dukungan untuk keberangkatan BNTHB ke Singapore kali ini. Liputan harian serta beberapa video dan foto dokumentasi BNTHB ke Singapore ini dapat dilihat di website: http://www.rumahbonita.com.

BONITA & the hus BAND

BONITA akan hadir dalam “Friday I’m in Lounge” di HardRock 87.6 FM Jakarta
hosted by: Rahmah Umayya dan Iwet Ramadhan.

rahmah umayya

iwet ramadhan
masih dalam rangka promosi album terbaru BONITA “…laju”, BONITA & the hus BAND juga akan menampilkan secara live beberapa lagu dari album “…laju” untuk para HardRockers.
Mari menyimak, menikmati Jumat pagi:
26 Maret 2010
pukul 09.00 WIB
HardRock 87.6 FM Jakarta
Terimakasih teman-teman!!! :)
Di hari ketiga kami berada di Singapura, kerinduan saya terhadap anak kami Pramusetya Kanca yang kami tinggal di Jakarta semakin menggebu. Terimakasih untuk teknologi perekaman video yang begitu canggih, saat kangen tiba, saya bisa melihat rekaman video Pram di handphone saya. Tapi ‘celaka’nya begitu melihat video tersebut, bukan terobati, rasa kangen malah makin menjadi. Akhirnya saya memilih untuk membayangkannya saja. Membayangkan wajahnya dan celotehannya serta tawa dan senyumannya membuat saya terus bersemangat menjalani hari-hari kami bersama di Singapura ini. Bermusik dengan giat dan semangat ternyata cukup bisa mengobati kerinduan saya itu, karena saya yakin ’somehow’ ini akan bermanfaat untuknya kelak.

Setelah semua penampilan musik tuntas kami jalani, di hari keenam kami ‘bebas tugas’. Dan kami berniat untuk mengisi malam terakhir kami di Singapura menyaksikan pertunjukan di Mosaic Music Festival. Pertunjukan dari seorang artis belum pernah saya dengar karya-karyanya. Ketertarikan saya pada artis yang satu ini adalah (salah satunya -setelah membaca beberapa berita tentangnya di internet) bahwa ia dulu pernah populer karena karyanya yang didokumentasikan dalam album rekaman audio pada tahun 1970 berjudul “Just Another Diamond Day”, namun ia ‘hilang’ dari ’scene’ musik populer tersebut setelah rilis album tersebut hingga tahun 2000. Saat itu ia dijuluki sebagai ‘female Bob Dylan’ dan ‘the Godmother of Freak Folk’. Dia adalah Vashti Bunyan.
Di Mosaic Music Festival 2010 ini ia tampil pada tanggal 19 Maret pukul 11 malam. Kembali lagi, keberuntungan beserta kami. Panitia memberikan kemurahan hati dan kemudahan bagi kami untuk bisa menyaksikan pertunjukan tersebut. Kami berhasil mendapatkan tiket gratis menyaksikan show Vashti Bunyan di Concert Hall Esplanade. Wow! Keren! Terimakasih! :D
Jantung berdebar-debar saat menanti jam 11 malam, waktu berlangsungnya show Vashti Bunyan: seperti apa musik yang akan ia sajikan, apa perasaan yang akan timbul dalam diri saya mendengarkan musiknya, atmosfer apa yang akan ‘menyelimuti’ saya saat pertunjukan nanti, akankah saya puas – atau kecewa; itu adalah beberapa hal yang membuat saya berdebar ingin segera menyaksikannya. Jam 11 kurang sepuluh menit kami menuju ke Concert Hall.

Begitu masuk ke ruangan pertunjukan, saya kagum dan nyaman: ruangan pertunjukan begitu baik ditata. Indah, bagus, keren :) Dan hati saya pun luluh begitu melihat setting panggung Vasthi Bunyan: sederhana. Dari sudut pandang saya (dari kiri ke kanan): piano, kursi dengan violin di atasnya, gitar akustik kawat 1 dan gitar akustik kawat 2 sedang ‘duduk’ di standnya. Baru dari melihat setting panggungnya saja saja, di kepala saya sudah bergumul bayangan-bayangan musikal, yang indah dan menenangkan. Sampai tiba saatnya lampu ditemaramkan dan MC mengintroduksi acara, lalu satu demi satu artis masuk dari kiri. Keempat musisi itu akhirnya duduk di tempatnya masing-masing. Buat saya Vashti Bunyan cantik sekali, senyumnya mengembang, dan ia tampak agak malu-malu. Wajahnya sering tertutupi oleh rambutnya yang sudah banyak beruban. Ya, dia sudah tua, 65 tahun usianya.
Satu demi satu lagu ia mainkan. Pada tiga lagu awal, saya melihat tangan kirinya sedikit gemetar memegang neck dan senar-senar gitarnya. Mungkin grogi? Mungkin saja, saya tidak tahu persis :) Sedikit sekali lirik lagu yang bisa saya dengarkan dengan jelas. Bukan karena sound systemnya yang kurang baik, sound system sangat baik dan membuat musik jelas sekali terdengar, tapi mungkin karena caranya bernyanyi yang membuat artikulasi lirik tidak bisa didengar dengan jelas.
Di setiap awal lagu Vashti Bunyan selalu memberikan introduksi, bercerita tentang lagu yang akan ia mainkan: apa, atau siapa, atau menceritakan perasaan apa. Introduksi tersebut ia sampaikan dengan singkat, dengan suara yang lembut cenderung lirih, wajah tersenyum, dan beberapa kali ia imbuhi dengan humor. Uraian-uraian itu yang menjadi salah satu modal saya menikmati lagu yang mereka mainkan. Sekali lagi, sederhana, indah, dan dalam, itu kesan yang hanya bisa saya sampaikan dengan kata-kata tentang lagu-lagu yang ia mainkan.
Vashti Bunyan ditemani oleh tiga orang musisi muda usia (dibandingkan dengan usia Vashti tentunya). Gareth Dickson bermain acoustic guitar, Emma Smith bermain violin/ recorder/ piano, dan Jo Mango bermain piano/ flute/ glockenspiel/ recorder/ concertina/ kalimba/ toy piano. Lagu-lagu yang mereka mainkan begitu menyentuh hati saya karena kedekatan isi lagu dengan pengalaman kerinduan saya dengan anak saya. Hal lain yang juga membuat saya tersentuh adalah aransemen yang begitu indah dan sederhana mereka mainkan: ‘model’ aransemen yang sering diajarkan guru musik untuk anak-anak dalam kelas ensamble, tidak rumit, menghasilkan bunyi-bunyi yang secara sederhana indah, dengan cara yang tidak terlalu sulit dimainkan. Hanya saja ketika hal-hal tersebut dimainkan dengan sepenuh hati dan dengan teknik yang cukup dan memadai, musik indahlah yang akan tercipta. Saya jadi teringat setting saat saya mengajar anak-anak untuk bermain musik secara ensamble… :)
Tema-tema lagu yang ia cipta dan mainkan adalah tema-tema kehidupan sehari-hari: cinta, rindu, patah hati, rumah, dan keluarga. Tema-tema itu ia sampaikan dengan kedalaman lirik yang membuat lagu-lagu itu mempunyai nilai tutur yang begitu unik-personal, sekaligus sangat berharga untuk dibagi. Satu frase yang cukup mewakili kesan saya atas karya musiknya adalah: “ASAM GARAM KEHIDUPAN” :) Saya percaya bahwa kedalaman pengalaman akan membuat tingkat kesadaran dan kepekaan menjadi lebih tinggi, ditambah lagi dengan usianya yang sudah 65 tahun. Hal-hal itu tertampil dari lagu-lagu Vashti Bunyan: lagu-lagu tersebut bisa mewakili perasaan yang saya alami, tingkat kesadaran yang ingin saya capai, serta pelegaan atas harapan atau kerinduan. Tidak sedikit air mata saya menetes karena haru mendengarkan lagu-lagu yang ia bawakan.
Usai 60 menit ia bermain, mereka berdiri dan pamit silam dari panggung. Tanpa dikomandoi, tepuk tangan tetap berteberan di ruang pertunjukan itu. Terus berlangsung sambil satu per satu penonton berdiri memberikan apresiasi atas pertunjukan indah itu. Dan ternyata itu juga menjadi permintaan untuk Vashti Bunyan kembali masuk ke panggung dan menyanyikan beberapa lagu lagi. Sosok ibu yang sudah tua itu muncul lagi ke panggung dengan senyumnya dan kembali duduk di kursinya untuk kembali bernyanyi. Usai satu lagu bonus, ia memanggil kembali ketiga musisi muda tersebut untuk membawakan satu lagu lagi. Semakin lengkap dan puas saya menyaksikan pertunjukan tersebut. Dan setelah lagu terakhir mereka bawakan kembali penonton memberikan tepuk tangan yang semakin meriah serta penghormatan dengan standing ovation. Tampak wajah Vashti Bunyan senang dengan (lagi-lagi) senyumnya yang terlihat begitu rendah hati sambil akhirnya silam ke balik panggung.
Kami berjalan meninggalkan tempat duduk kami. Saya tersenyum sambil mengangkat alis. Kerinduan saya pada Pram semakin menguat namun justru semakin tenang dan teduh. Hati menjadi damai, bahagia secara sederhana, dan merasakan kerendahhatian dari pertunjukan tadi. Sejenak badan saya pun pulih dari kelelahan selama lima hari berkegiatan. “Apa lagi yang lebih penting untuk dicari dari kenikmatan bermusik selain mendapatkan perasaan-perasaan ini“, pikir saya dalam hati sambil berjalan ke luar ruang pertunjukan.
Beruntung sekali ada sesi penandatanganan CD dan merchandise di selasar concert hall tepat seusai pertunjukan. Langsung saja Bonita dan saya memutuskan untuk membeli ketiga CD album Vashti Bunyan di loket agar kami punya kesempatan bertemu, bercakap sebentar, mendapat tanda tangan, dan berfoto dengannya. Antrian untuk bisa bertemu dengan Vasthi Bunyan cukup panjang, makin tidak sabar lagi kami menunggu tiba giliran bertemu dengannya.

Dan seperti kata pepatah (atau bukan) “antri saja, nanti juga tiba giliranmu“, kami akhirnya bertemu dengan Vashti Bunyan. Wajahnya begitu ramah, matanya indah dan terlihat tulus. Kami mendapat tanda tangan di salah satu CDnya dan di ID card kami masing-masing. Secara khusus Bonita meminta Vashti menandatangani CD album “lookaftering” untuk Pram “To Pram with love from Vashti” begitu tulisnya di keping CD berlatar putih itu. Terimakasih kepada Deta yang ternyata masih menyimpan CD “…laju” BONITA di tasnya, Bonita dengan begitu antusias memberikan “…laju” kepada Vashti.
“Saya begitu senang mendengarkan musik Anda. Ini adalah CD album saya yang kedua, dan saya sangat bangga dengan album ini. Saya ingin memberikannya kepada Anda”, ujar Bonita. Vasthi mengucapkan terimakasih atas pemberian Bonita. “Terimakasih atas kesabaran, musik, dan senyum Anda”, ujar saya berpamitan.
Kami juga sempat berfoto bersama dengannya :)
Menyaksikan pertunjukan Vasthi Bunyan membuat kunjungan saya ke Singapura menjadi lengkap dan utuh. Malam terakhir di Singapura ditutup dengan pengalaman yang indah dan sederhana serta meneduhkan. Terimakasih kepada teman-teman semua (tanpa terkecuali), juga kepada Mosaic Music Festival 2010, yang membuat kami bisa mendapatkan pengalaman-pengalaman indah ini.
Bagi saya pribadi, sebagus-bagusnya penampilan kami di MMF2010 dan juga Blu Jaz Cafe, sesukses-suksesnya agenda kami, seberhasil-berhasilnya perjalanan kami, semuanya baru menjadi lengkap bagi saya ketika kami pulang ke Jakarta dan bertemu Pramusetya Kanca dalam keadaan sehat lahir dan batin. We do need others, especially our family. Secara halus dalam penampilan dan musiknya, Vashti Bunyan mengingatkan saya akan hal itu. Terimakasih… :’)
- Petrus Briyanto Adi -

Tanggal 17 & 18 Maret 2010 kami mendapat kesempatan untuk tampil di Blu Jaz Cafe di daerah Bali Lane Singapore. Kesempatan ini bisa kami dapatkan setelah rekan kami yaitu Nona yang tinggal di Singapore memberikan rujukan beberapa alternatif tempat untuk kami bisa ‘mengamen’, bermain musik sambil memperkenalkan BNTHB dan menjual CD Bonita “…laju” dan BNTHB volume-2. Deta menindaklanjuti rujukan Nona dengan menghampiri Blu Jaz pada bulan Januari lalu. Kami senang sekali karena pada akhirnya pihak Blu Jaz menerima ‘tawaran’ kami untuk bisa mengamen di sana.
Pada tanggal 16 Maret saat kami tampil di Mosaic Music Festival dalam sesi “Tribute to Soul Legends”, Benjamin -sang manajer Blu Jaz Cafe- datang untuk melihat penampilan kami di Concourse, Haagen Dazs Living Room, Esplanade. Hadir juga di Concourse tersebut ibu dari Benjamin dan temannya. Mereka menyatakan kesenangannya akan penampilan kami saat itu dan tidak sabar menyaksikan pertunjukan kami di Blu Jaz keesokan harinya. Terimakasih banyak… :)
Tiba saatnya pada hari Rabu 17 Maret 2010, kami tiba di Blu Jaz pada pukul 8.00 pm untuk melakukan soundcheck bagi penampilan kami pukul 9.00 pm. Pada hari itu kami tampil di lantai 3 kafe Blu Jaz. Suasanya kafenya sangat menarik, atmosfernya kurang lebih sama dengan kafe di mana kami sempat bermain rutin di Jakarta. Setelah soundcheck ’seadanya’ dan makan malam, kami mulai tampil. Tidak dinyana ternyata banyak sekali teman-teman yang pada tanggal 15 & 16 menyaksikan kami di Mosaic Music Festival datang ke Blu Jaz untuk kembali menyaksikan kami tampil di kafe tersebut. Nona juga mengajak beberapa temannya untuk datang menyaksikan kami.
Sesi satu kami lalui dengan lancar dan menyenangkan. Saat sesi kedua berjalan semakin banyak penonton yang naik ke lantai 3 untuk menyaksikan penampilan kami. Kami sungguh senang dan bersemangat menampilkan musik kami. Sungguh tidak dinyana ternyata sambutan para penonton, baik yang sudah atau pun yang belum mengenal kami sangat baik :)
Pada hari Kamis, 17 Maret 2010, kami tampil di lantai 1 Blu Jaz.
Sebagai gambaran singkat, lantai satu kapasitas penontonnya jauh lebih banyak dibanding lantai 3. Lantai satu bisa memuat penonton sebanyak 70 orang plus beberapa meja lagi yang ada di trotoir luar kafe. Lantai 3 berkapasitas penonton sebanyak +/- 40 orang dengan ruangan yang lebih tertutup. Yang cukup menarik di hari kedua penampilan kami di Blu Jaz adalah tidak adanya orang yang bertugas menata sound system. Orang yang bertugas tersebut ternyata tidak hadir (libur) di hari Kamis. Waaahhh… seru bukan? :) Pertunjukan sempat tertunda sekitar 30 menit dari waktu yang dijadwalkan untuk kami tampil, pukul 9.30 pm baru kami tampil dengan sound system yang saya bingung bagaimana mengaturnya. Tapi kami tetap bisa tampil dengan lancar. Jimmy harus mengeluarkan tenaga ekstra karena di hari kedua penampilan kami tersebut, ia tidak mendapatkan microphone untuk saxophonesnya. Selamat ya Jim, dan terimakasih banyak atas kerja keras doublemu malam itu… :)
Sesi kedua berlangsung dari pukul 11.15 pm hingga 00.30 am dengan seru, lancar, dan menyenangkan. Teman-teman kami dari Indonesia cukup banyak yang datang untuk menyaksikan penampilan kami kembali. Begitu juga tamu-tamu lain yang akhirnya memilih untuk mampir ke Blu Jaz menikmati kafe dan musik live yang kami mainkan.

Satu hal yang cukup baik saya amati adalah para penonton begitu ‘mencintai’ kami. Mereka sangat menghargai musik yang kami tampilkan. Dari respon mereka, mereka sangat senang ketika kami membawakan repertoire ciptaan kami sendiri atau lagu-lagu Bonita. Dan para penonton tidak ragu untuk memberikan komentar langsung kepada kami setelah kami turun panggung. Lugas, asertif, dan sekaligus menguatkan/ menyemangatkan. Kami sangat senang dengan ini karena bagi kami, saat kami bermain kami juga mengeluarkan semua tenaga dan semangat yang ada tanpa kami tunda atau kami irit-irit, semuanya untuk apa yang kami mainkan dan tampilkan juga secara lugas dan tulus. Dan kami bersyukur ternyata hal tersebut mereka tangkap dalam penampilan kami.
Terimakasih banyak kami ucapkan kepada pihak Blu Jaz, teman-teman Indonesia yang tinggal di Singapore yang sudah menyempatkan diri untuk datang melihat dan menikmati musik yang kami mainkan, teman-teman baru kami dari Singapore, para pengunjung Blu Jaz Kafe yang lain, dan tentunya teman-teman dan saudara-saudara kami yang sudah mendukung persiapan dan penampilan kami di SIngapore dalam kunjungan kami kali ini. Kebahagiaan kami tidak akan lengkap tanpa dukungan dan energi positif dari kalian semua. We love you… :’)
Kesan-kesan baik yang kami dapatkan di hari pertama tetap kami dapatkan di hari kedua. Menyenangkan sekali. Satu hal lagi yang saya sadari kemarin adalah bahwa penyelengggara memperlakukan kami begitu baik dan bermartabat. Hal ini bisa dilihat dari niat mereka untuk memberikan asistensi yang terbaik bagi kami. Sampai-sampai ‘boss’nya Mosaic Music Festival sendiri (Lee Esther Chloe Masada) datang menjemput untuk kami untuk berangkat melakukan soundcheck ke Esplanade. Membahagiakan sekali ketika kita merasa diri kita berharga. Terimakasih :)
- Bharata, Adoy, Esther, Bonita, Jimmy -
Soundcheck berjalan dengan baik dan lancar. Jimmy mendapatkan dua buah monitor untuk dirinya sendiri!! :) satu untuk monitor vokal, dan satu lagi untuk monitor instruments. Membuatnya bermain lebih optimal, selamat ya Jim :) cool… Dan untuk setist di hari kedua ini (untuk tema “Tribute to Soul Legends”) ini Jimmy hanya menggunakan alto saxophonenya; soprano,
kamu istirahat sana!!! :D. Microphones yang digunakan Bharata berkurang satu, tidak lagi enam. Lagi-lagi bukan masalah jumlah, tapi mutu yang didapat dari alat-alat yang ada sungguh baik. Ini yang namanya efisien :) Dan saya pribadi mendapatkan satu pengalaman baru yaitu bahwa tata suara penampilan kami operated dan engineered oleh seorang perempuan :)
Pada saat tampil, suara yang kami dengar jelas berbeda dengan hari sebelumnya ketika kami bermain di outdoor, karena yang kali ini ruangannya indoor, dengan atap yang tinggi dan dinding-dinding marmer. Tapi suaranya tetap nyaman dan enak didengar. Salut buat para kru dan sound engineer di Esplanade:

KEREN dan BAIK!!! Suasana kali ini lebih intim, penonton berada pada satu level dengan area penampil. Mereka duduk-duduk di sofa santai dan di karpet dengan bantal-bantal kecil, ada yang sambil bersila, ada yang sambil bersandar santai di sofa. Buat kami, ini seperti pulang ke rumah, setting yang biasa kami mainkan :)
7 lagu tuntas kami bawakan: “Hard to Handle”, “People Get Ready”, “Waiting in Vain”, “R.E.S.P.E.C.T”, “Bimbi”, “I Feel Good”, dan “It’s Over Now”. Tepat pada bagian coda lagu “Bimbi” senar satu gitar saya putus :O
Saya memutuskan tidak mengganti senar tersebut setelah melihat jam tangan saya: “waktu tampil tinggal 12 menit lagi!”. Masih ada dua lagu lagi: “I Feel Good” sekitar 4menit, “It’s Over Now” sekitar 7 menit, belum ditambah introduksi kedua lagu tersebut. Tidak mungkin sempat saya menggantinya. Jadilah saya memutuskan, tidak usah ganti senar. Lima senar saja untuk dua lagu terakhir :) Syukur bisa berjalan dengan lancar hingga lagu terakhir usai kami mainkan.

Sekali lagi, kerjasama antar pihak sungguh membuat penampilan kami berjalan dengan baik. Saya merasa bahagia dan bangga. Terimakasih semuanya!!! :’)
-adoy-